|
Identifikasi
masalah / resiko yang dapat terjadi di Lift
|
Pencegahannya
|
Penanggulangannya
|
|
Tangan terjepit
|
Tempelkan tanda bahaya terjepit pada dinding pintu lift,
jangan bermain – main dengan pintu lift
|
Hubungi emergency engginering dan sesegera mungkin bawa ke
rumah sakit
|
|
Lift error atau rusak sehingga
terjebak di lift
|
Jika tanda full di lift telah muncul jangan memaksakan,
maka dengan sadar diri harus keluar dan menunggu giliran lift selanjutnya.
|
Hubungi emergency engginering, jangan panik dan tekan
tombol alarm secepatya.
|
|
Kebakaran
|
Jangan membawa zat-zat dan bahan mudah terbakar kedalam
lift
|
Tutup dengan kain bagian yang terbakar dengan cepat. Siram
dengan air yang ada, jauhan bahan yang menyebabkan sesegera mungkin dari
sumber api, Hubungi emergency engginering, jangan panik dan tekan tombol
alarm secepatya.
|
1. Bahaya
saat menggunakan fisilitas lift :
2. Bahaya saat praktik laboratorium :
|
Identifikasi
masalah / resiko yang dapat terjadi saat praktik laboratorium
|
Pencegahannya
|
Penanggulangannya
|
|
Terpeleset
|
–
Pakai sepatu anti slip
– Jangan pakai sepatu dengan hak tinggi, tali sepatu longgar – Hati-hati bila berjalan pada lantai yang sedang dipel (basah dan licin) atau tidak rata konstruksinya. – Pemeliharaan lantai dan tangga |
segera
di tangani medis dan perhatikan perawatan lantainya untuk keselamatan
|
|
Mengambil sample
darah/cairan tubuh lainnya
Akibat
:
– Tertusuk jarum suntik – Tertular virus AIDS, Hepatitis B |
–
Gunakan alat suntik sekali pakai
– Jangan tutup kembali atau menyentuh jarum suntik yang telah dipakai tapi langsung dibuang ke tempat yang telah disediakan (sebaiknya gunakan destruction clip). – Bekerja di bawah pencahayaan yang cukup |
beri
alcohol secepatnya dan segera di tangani tim medis
|
|
Risiko terjadi kebakaran
|
–
Konstruksi bangunan yang tahan api
– Sistem penyimpanan yang baik terhadap bahan-bahan yang mudah terbakar – Pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya kebakaran – Sistem tanda kebakaran (Manual yang memungkinkan seseorang menyatakan tanda bahaya dengan segera & Otomatis yang menemukan
kebakaran
dan memberikan tanda secara otomatis)
– Jalan untuk menyelamatkan diri – Perlengkapan dan penanggulangan kebakaran. – Penyimpanan dan penanganan zat kimia yang benar dan aman. |
Tutup
dengan kain bagian yang terbakar dengan cepat. Siram dengan air yang ada,
jauhan bahan yang menyebabkan sesegera mungkin dari sumber api, Hubungi emergency
engginering, jangan panik.
|
|
Penyakit Akibat Kerja & Penyakit Akibat
Hubungan Kerja di laboratorium ke sehatan
|
-
Substitusi dari bahan kimia, alat kerja atau proses kerja
- Isolasi dari bahan-bahan kimia, alat kerja, proses kerja dan petugas kesehatan dan non kesehatan (penggunaan alat pelindung) - Perbaikan sistim ventilasi, dan lain-lain |
Pemeriksaan
dan pengobatan pekerja dan jaminan kesehatan
|
|
|
JENIS
|
SKALA DAN
PENANGANAN
|
|
·
Ergonomi
Memiliki kesalahan postur
·
Berdiri waktu yang lama
·
Duduk tanpa back suport dan
·
head suport
·
Mengangkat beban berat
·
Membungkukkan badan
·
Memutar badan
·
Mengangkat tangan lebih
·
tinggi dari bahu
·
Bekerja pada posisi jongkok
·
Memiliki suhu ruangan yang panas Memiliki ventilasi yang terbatas
|
5 Banyak bahaya: Memiliki Kesalahan Postur lebih
dari 5
Memiliki suhu ruang panas
Memiliki Ventilasi terbatas
4 Banyak bahaya: memiliki kesalahan postur lebih
dari 4
Memiliki suhu ruang panas
Memiliki ventilasi terbatas
3 Banyak bahaya: memiliki kesalahan postur lebih
dari 3
Memiliki suhu ruang panas
Memiliki ventilasi terbatas
2 Banyak Bahaya: memilki kesalahan postur lebih dari
2
Memiliki suhu ruang panas atau memiliki ventilasi
terbatas
1 Banyak bahaya: memiliki kesalahan postur kurang
dari 2
Tidak ada masalah suhu ruang dan ventilasi
|
|
|
Bahaya
Suhu Ekstrim
Terpapar suhu 100-diatas seribu |
5
terpapar suhu diatas 700 Oc
4 terpapar suhu dengan interval 500oC – 699oC
3
terpapar suhu dengan interval 300oC – 499oC
2
terpapar suhu dengan interval 100oC – 299oC
1
terpapar suhu dengan interval 70oC –
99oC
|
|
|
Bahaya
elektrikal
Banyaknya titik sumber bahaya elektrikal
Contoh
bahaya elektrikal
Sirkuit listrik yang tidak terpasang baik seperti saklar yang longgar Kabel yang tidak dilapisi insulator (kabel telanjang) Rangkaian kabel yang tidak baik Cok sambung yang longgar Kondisi basah yang dekat dengan arus listrik |
5
memiliki titik sumber bahaya elektrikal lebih dari 7
4
memiliki titik sumber bahaya elektrikal 5-7
3 memiliki titik sumber bahaya elektrikal 3-4 2 memiliki titik sumber bahaya elektrikal 2-3
1
memiliki titik sumber bahaya elektrikal 1
|
|
|
Bahaya Kebisingan Tingkat
kebisingan
|
5 memiliki ruangan dengan kebisingan lebih dari 100 db
4 memiliki ruangan dengan kebisingan 90-99 db
3 memiliki ruangan dengan kebisingan 70-89 db 2 memiliki ruangan dengan kebisingan 40-69 db
1 memiliki ruangan dengan kebisingan dibawah 40 db
|
|
Bahaya
jatuh, benda jatuh/benda terlempar, penglihatan
Banyak penyebab terjatuh Benda jatuh/terlempar
Posisi
ketinggian/ kipas angin/mesin
Penglihatan mesin penghasil scrap/sparks |
5 memiliki potensi penyebab terjatuh,
penyebab benda terlempar dan jatuh dan potensi bahaya penglihatan
4 memiliki potensi penyebab terjatuh dan penyebab benda terlempar 3 memiliki potensi penyebab terjatuh dan potensi bahaya penglihatan
2 memiliki salah satu potensi ( jatuh
atau benda terlempar atau bahaya penglihatan)
1 tidak terdeteksi potensi jatuh, benda terlempar atau bahaya penglihatan |
TUGAS !
1.
Apa
yang dimaksud dengan keselamatan dan kesehatan kerja ?
Jawab : Adalah
pemberian perlindungan kepada setiap orang yang berada ditempat kerja, yang
berhubungan dengan pemindahan bahan baku, penggunaan peralatan kerja
konstruksi, proses produksi dan lingkungan sekitar tempat kerja, Agar pekerja
mencapai keadaan sejahtra dari badan, jiwa, sosial, fisik, dan psikis.
2.
Dalam
perkembangan pelaksanaan K3 terakhir faktor penting apa saat ini sebagai faktor
penyebab utama kecelakaan. Sebutkan dan jelaskan!
Jawab
: Terdapat tiga faktor
utama penyebab kecelakaan kerja yaitu, Faktor manusia yang mencangkup umur baik
belum dan sudah tidak layak kerja di sektor tersebut, jenis kelamin dalam
penempatan sektor kerja yang tidak semestinya, masa kerja, tidak adanya jeda
waktu untuk pekerja agar bekerja lebih konsisten, penggunaan alat pelindung
diri yang tidak lengkap dan disepelekan, tingkat pendidikan sehingga tidak
meguasai prosedur kerja dengan tepat, perilaku atau kebiasaan yang tidak tepat
saat bekerja, tidak adanya pelatihan keselamatan kerja bagi para pekerja, tidak
di tegakan dan disiplinkan mengeani peraturan k3 dan tata tertib bekerja
sehingga terjadi human eror.
3.
Bagaimana Keterkaitan antara K3 dengan produktivitas
perusahaan?
Jawab : Sebuah perusahaan yang
baik dan sehat adalah perusahaan yang selalu memperhatikan kondisi karyawannya,
dalam hal ini keselamatan kerja karyawannya. Penerapan program keselamatan
kerja yang optimal bagi karyawan secara langsung erat hubungannya dengan
produktivitas kerja karyawan, karena penerapan program keselamatan kerja
merupakan salah satu cara memotivasi karyawan untuk meningkatkan produktivitas
kerja mereka. Motivasi akan timbul
dari diri karyawan untuk bekerja sebaik mungkin apabila mereka merasa aman dan
nyaman dalam melaksanakan pekerjaannya tanpa ada resiko yang dapat mengancam
keselamatan jiwanya, selain itu karyawan juga akan senang karena mereka merasa
diperhatikan oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Akan tetapi sebaliknya,
apabila program keselamatan kerja tidak dijalankan secara intensif dan optimal,
maka dapat menurunkan produktivitas kerja karyawan, yaitu penurunan semangat
dan gairah kerja karyawan akibat mereka merasa takut mengambil resiko untuk
membahayakan jiwanya dan tentunya karena mereka merasa tidak diperhatikan oleh
perusahaan tempat mereka bekerja.
4.
Apa perbedaan antara insiden dan accident? Jelaskan?
Accident dibedakan dengan ‘incident’. Perbedaan
antara keduanya adalah ada atau tidaknya loss (kerugian). Accident selalu disertai dengan
timbulnya kerugian, sedangkan incident
tidak disertai dengan kerugian. Incident adalah mirip dengan accident,
namun bedanya adalah incident tidak
disertai dengan kerugian. Yang termasuk kedalam kategori incident adalah: nearmiss,
dan kejadian-kejadian berbahaya.
KESIMPULAN :
KESIMPULAN :
a. Yang biasa disebut di TV,
surat kabar atau lainnya insiden, itu sebenarnya bukan insiden, tapi accident
atau kecelakaan, karena sudah menyebabkan kerugian baik nyawa, cedera, maupun
harta benda.
b.Insiden tidak sampai terjadi
kerugian, tapi hampir terjadi kerugian.
c.Salah
satu contoh dari Insiden adalah Near Miss, yang orang banyak bilang 'nyaris'.
Near Miss merupakan Insiden yang diakibatkan oleh kecerobohan manusia.
5.
Apa perbedaan prinsip sumber bahaya (hazard) keselamatan
dan kesehatan?
Jawab :
Prinsip keselamatan dalam kerja adalah pegendalian
kecelakaan dalam pekerjaan, Kemampuan untuk mengidentifikasikan dan
menghilangkan (mengontrol) resiko yang tidak bisa diterima (the ability to
identify and eliminate unacceptable risks). Sedangkan prinsip kesehatan adalah Derajat/tingkat
keadaan fisik dan psikologi individu (the degree of physiological and
psychological well being of the individual).
6.
Apa yang dimaksud dengan Domino Theory Model?
Jawab :
Dalam Teori Domino
Heinrich, kecelakaan terdiri atas lima faktor yang saling berhubungan : 1.Kondisi
kerja
2.Kelalaian
manusia 3.Tindakan tidak aman 4.Kecelakaan 5.Cedera
Kelima faktor ini tersusun layaknya kartu domino yang diberdirikan. Jika satu kartu jatuh, maka kartu ini akan menimpa kartu lain hingga kelimanya akan roboh secara bersama.Ilustrasi ini mirip dengan efek domino yang telah kita kenal sebelumnya, jika satu bangunan roboh, kejadian ini akan memicu peristiwa beruntun yang menyebabkan robohnya bangunan lain. Menurut Heinrich, kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan tindakan tidak aman sebagai poin ketiga dari lima faktor penyebab kecelakaan. Menurut penelitian yang dilakukannya, tindakan tidak aman ini menyumbang 98% penyebab kecelakaan.
Kelima faktor ini tersusun layaknya kartu domino yang diberdirikan. Jika satu kartu jatuh, maka kartu ini akan menimpa kartu lain hingga kelimanya akan roboh secara bersama.Ilustrasi ini mirip dengan efek domino yang telah kita kenal sebelumnya, jika satu bangunan roboh, kejadian ini akan memicu peristiwa beruntun yang menyebabkan robohnya bangunan lain. Menurut Heinrich, kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan tindakan tidak aman sebagai poin ketiga dari lima faktor penyebab kecelakaan. Menurut penelitian yang dilakukannya, tindakan tidak aman ini menyumbang 98% penyebab kecelakaan.
Lalu,bagaimana penjelasan dengan
menghilangkan tindakan tidak aman ini dapat mencegah kecelakaan? Kembali ke analogi kartu domino tadi,
jika kartu nomer 3 tidak ada lagi, seandainya kartu nomer 1 dan 2 jatuh, ini
tidak akan menyebabkan jatuhnya semua kartu.Dengan adanya gap/jarak antara
kartu kedua dengan kartu keempat, pun jika kartu kedua terjatuh, ini tidak akan
sampai menimpa kartu nomer 4. Akhirnya, kecelakaan (poin 4) dan cedera (poin 5)
dapat dicegah.
Dengan penjelasannya ini, Teori Domino
Heinrich menjadi teori ilmiah pertama yang menjelaskan terjadinya kecelakaan
kerja. Kecelakaan tidak lagi dianggap sebagai sekedar nasib sial atau karena
peristiwa kebetulan
7.
Jelaskan tahapan pencegahan kecelakaan?
Jawab :
a.
Pemantauan
dan Pengendalian Kondisi Tidak Aman di tempat kerja.
b.
Pemantauan
dan Pengendalian Tindakan Tidak Aman di tempat kerja.
Ø Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja melalui Pembinaan dan Pengawasan :
a.
Pelatihan
dan Pendidikan K3 terhadap tenaga kerja.
b.
Konseling
dan Konsultasi mengenai penerapan K3 bersama tenaga kerja.
c.
Pengembangan
Sumber Daya ataupun Teknologi yang berkaitan dengan peningkatan penerapan K3 di
tempat kerja.
a.
Prosedur
dan Aturan K3 di tempat kerja.
b.
Penyediaan
Sarana dan Prasarana K3 dan pendukungnya di tempat kerja.
c.
Penghargaan
dan Sanksi terhadap penerapan K3 di tempat kerja kepada tenaga kerja.
8.
Sebutkan dan jelaskan metode identifikasi sumber bahaya
(berikan salah satu contoh metode) !
Jawab :
Dalam melakukan tahapan-tahapan identifikasi bahaya ada
beberapa metode yang dapat digunakan (Wachyudi, 2010) :
- Metode Perbandingan, yaitu metode yang membandingkan
rancangan terhadap suatu standar atau desain, dan berbentuk seperti daftar
periksa (checklist). Daftar periksa menyediakan acuan untuk
menentukan potensi bahaya dalam suatu sistem. Daftar ini dikembangkan dari
pengalaman atau standard atau hasil analisis tertentu dengan mengumpulkan
pengalaman masa lalu dalam suatu daftar tentang apa yang boleh dan apa
yang tidak. Daftar periksa berguna saat proses perancangan untuk membantu
ingatan dalam mengungkapkan bahaya yang terlupakan.
- Metode fundamental, yaitu metode yang tersusun untuk
memotivasi orang yang menerapkan pengetahuan dan pengalaman mereka dengan
tujuan mengidentifikasi bahaya. Yang termasuk dalam metode kelompok ini
adalah :
a) Preliminary Hazard Analysis (PHA) atau Analisis Bahaya Awal, merupakan suatu sistem atau metode
yang biasanya digunakan untuk menjelaskan dengan teknik kualitatif untuk
identifikasi bahaya pada tahap awal dalam proses desain (Mannan, 2005). PHA ditujukan
hanya pada tahap awal pengembangan pabrik/ industri/ instalasi. Informasi yang
dibutuhkan untuk dilakukan penelitian adalah kriteria desain, spesifikasi bahan
dan peralatan, dll. Prinsip dari PHA adalah untuk mengidentifikasi
bahaya yang mungkin akan berkembang menjadi kecelakaan. Ini dilakukan dengan
menimbulkan situasi atau proses yang tidak direncanakan atau dimaksud terjadi.
Ini penting untuk melakukan identifikasi bahaya dari awal pada proses desain
bertujuan untuk mengimplementasikan corrective measure pada desain, yang
dikenal dengan manajemen resiko atau reduksi pro aktif. Beberapa deviasi yang
dapat terjadi ditandai dengan isyarat : more of ...; less of ...; nothing of
...; part of ...; both ... and ...; another than ...; opposite direction ...;
later than ....
b) Hazard Operability Study (HAZOPS), merupakan metode
yang banyak digunakan oleh industri proses untuk mengidentifikasi bahaya pada
tahap desain rekayasa (Mannan, 2005). Tujuannya untuk menganalisis sistem
bagian per bagian dan menjelaskan bagaimana kondisi ideal suatu sistem bekerja.
Langkah awal dilakukan dengan mendapatkan tinjauan dari sistem berupa gambar
teknis atau informasi lain dari sistem tersebut. Sistem harus dibagi menjadi
bagian-bagian yang dijelaskan pula kondisi ideal dari bagian-bagian tersebut.
Pada sebuah sistem, semua bagian atau subsistem merupakan dependen satu sama
lain, dan ketergantungan ini harus diidentifikasi. Langkah berikutnya adalah
melakukan identifikasi deviasi untuk tiap bagian dari sistem. Untuk membantu
mengidentifikasi deviasi, digunakan guideword. Ketika deviasi
teridentifikasi, maka penyebabnya pun dapat teridentifikasi.
c) Risk Based Inspection (RBI), adalah penilaian
risiko dan manajemen proses yang terfokus pada kegagalan peralatan karena
kerusakan material. Fokus RBI adalah penilaian risiko yang berkaitan
dengan pengoperasian peralatan. RBI dapat memberikan masukan kepada
manajemen untuk merencanakan jadwal inspeksi dan pemeliharaan pada perlatan
termasuk penganggaran biayanya. Pendekatan RBI secara kualitatif
menyediakan dasar analisis untuk memprioritaskan program inspeksi berdasarkan
risiko.
d) What-If merupakan metode
identifikasi bahaya awal untuk meninjau desain dengan menanyakan serangkaian
pertanyaan awal yaitu bagaimana-jika (what-if). Analisis what-if
merupakan bagian dari cara checklist, yang kemungkinan merupakan metode
identifikasi bahaya tertua.
e) Failure Modes and Effect Analysis
(FMEA) atau Analisis Pola
Kegagalan dan Akibat, yaitu metode untuk mengidentifikasi bahaya yang melibatkan
analisis modus kegagalan dari suatu entitas, penyebabnya, dampaknya, dan
hubungan kritikalitas dari kegagalan (Mannan, 2005). Tujuan dari FMEA adalah
untuk mengidentifikasi kegagalan yang mempunyai dampak yang tidak diinginkan
pada sistem operasi.
f) Fault Tree Analysis (FTA) dan Event Tree Analysis (ETA) merupakan diagram
logika yang digunakan untuk mewakili masing-masing dampak dari suatu peristiwa
dan penyebab dari suatu peristiwa (Mannan, 2005). Diagram ini juga menyatakan
ilustrasi bebas dari rangkaian potensi kegagalan peralatan atau kesalahan
manusia yang dapat menimbulkan kerugian. FTA bersifat deduktif dengan
memunculkan akibat untuk mencari sebab, sedangkan ETA bersifat induktif
dengan menampilkan sebab (kejadian awal) untuk mencari akibat (kejadian akhir).
g) Qualitative Risk Assessment merupakan pendekatan
nilai risiko terhadap suatu sistem dengan pemberian skor secara kualitatif
(iya/ tidak; baik/ buruk; tinggi/ rendah) terhadap faktor kemungkinan dan
akibat kegagalan dari suatu kejadian (Wachyudi, 2010).
h) Semi-quantitave Risk Assessment merupakan
pengembangan penilain risiko dengan menggunakan suatu pemodelan untuk kejadian
tertentu untuk mendapatkan rate event. Pemodelan tersebut bertujuan
untuk mendapatkan akurasi data berdasarkan informasi awal yang diolah dengan
mempertimbangkan parameter-parameter yang ada (Wachyudi, 2010).
i)
Quantitative Risk Assessment merupakan penilaian penuh dengan
melakukan pemodelan semua kejadian sehingga kemungkinan dan akibat dari suatu
kegagalan dapat diketahui secara numerik sehingga mendapatkan tingkat risiko
yang cukup akurat (Wachyudi, 2010).
9.
Jelaskan perbedaan tugas antara inspektur dan auditor !
Jawab :
§Auditor à orang yang menguji
dengan kritis secara sistematis terhadap penerapan Manajemen K3 diseluruh
kegiatan perusahaan, dengan tujuan untuk meminimisasi kerugian Upaya mengatur
efektivitas dari pelaksanaan suatu Sistem, memfokuskan terhadap proses suatu
Sistem, menekanan terhadap Proses, dengan
Metode Pelaksanaan : tinjauan ulang, verifikasi dan observasi, Jangka
Panjang
§Inspektur à orang yang memeriksa secara rutin dan berkala terhadap suatu Obyek Kegiatan
atau Departemen biasanya dilakukan oleh petugas setempat dengan upaya menemukan kesesuaian dari suatu Obyek, memfokuskan
terhadap suatu Obyek, menekanan terhadap hasil akhir, Metode Pelaksanaan :
dengan pengujian secara teknis dan mendetil, Jangka Pendek.
10.
Sistem Manajemen K3 merupakan pelaksanaan K3 berdasarkan
kesisteman. Jelaskan!
Jawab : Sistem Manajemen K3 (Keselamatan dan
Kesehatan Kerja) menurut Permenaker No 5 Tahun 1996 berdasarkan Kesisteman ialah bagian dari sistem secara keseluruhan
yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung-jawab, pelaksanaan,
prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan,
pencapaian, pengajian dan pemeliharaan kebijakan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja dalam
rangka pengendalian
resiko yang berkaitan dengan kegiatan
kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
Sedangkan
Sistem Manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) menurut standar OHSAS
18001:2007 ialah bagian dari sebuah sistem manajemen organisasi
(perusahaan) yang digunakan untuk mengembangkan dan menerapkan Kebijakan
K3 dan mengelola resiko
K3 organisasi
(perusahaan) tersebut.
Elemen-Elemen
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja bisa beragam tergantung dari
sumber (standar) dan aturan yang kita gunakan. Secara umum, Standar Sistem
Manajemen Keselamatan Kerja yang sering (umum) dijadikan rujukan ialah Standar
OHSAS 18001:2007, ILO-OSH:2001 dan Permenaker No 5 Tahun 1996 tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar