Minggu, 17 Juni 2018

Mengidentifikasi bahaya atau resiko yang ada di lingkungan kampus



Bahaya dan Resiko yang mungkin terjadi di lingkungan kampus Poltekkes Kemenkes Jakarta 3 adalah :
Identifikasi masalah / resiko yang dapat terjadi di Lift
Pencegahannya
Penanggulangannya
Tangan terjepit
Tempelkan tanda bahaya terjepit pada dinding pintu lift, jangan bermain – main dengan pintu lift
Hubungi emergency engginering dan sesegera mungkin bawa ke rumah sakit
Lift error atau rusak sehingga terjebak di lift
Jika tanda full di lift telah muncul jangan memaksakan, maka dengan sadar diri harus keluar dan menunggu giliran lift selanjutnya.
Hubungi emergency engginering, jangan panik dan tekan tombol alarm secepatya.
Kebakaran
Jangan membawa zat-zat dan bahan mudah terbakar kedalam lift
Tutup dengan kain bagian yang terbakar dengan cepat. Siram dengan air yang ada, jauhan bahan yang menyebabkan sesegera mungkin dari sumber api, Hubungi emergency engginering, jangan panik dan tekan tombol alarm secepatya.
1.     Bahaya saat menggunakan fisilitas lift :



2.     Bahaya saat praktik laboratorium :
Identifikasi masalah / resiko yang dapat terjadi saat praktik laboratorium
Pencegahannya
Penanggulangannya
  Terpeleset
– Pakai sepatu anti slip
– Jangan pakai sepatu dengan hak tinggi, tali sepatu longgar
– Hati-hati bila berjalan pada lantai yang sedang dipel (basah dan licin) atau tidak rata konstruksinya.
– Pemeliharaan lantai dan tangga
segera di tangani medis dan perhatikan perawatan lantainya untuk keselamatan
Mengambil sample darah/cairan tubuh lainnya
Akibat :
– Tertusuk jarum suntik
– Tertular virus AIDS, Hepatitis B
– Gunakan alat suntik sekali pakai
– Jangan tutup kembali atau menyentuh jarum suntik yang telah dipakai tapi langsung dibuang ke tempat yang telah disediakan (sebaiknya gunakan destruction clip).
– Bekerja di bawah pencahayaan yang cukup
beri alcohol secepatnya dan segera di tangani tim medis
Risiko terjadi kebakaran
– Konstruksi bangunan yang tahan api
– Sistem penyimpanan yang baik terhadap bahan-bahan yang mudah terbakar
– Pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya kebakaran
– Sistem tanda kebakaran (Manual yang memungkinkan seseorang menyatakan tanda bahaya dengan segera & Otomatis yang menemukan
kebakaran dan memberikan tanda secara otomatis)
– Jalan untuk menyelamatkan diri
– Perlengkapan dan penanggulangan kebakaran.
– Penyimpanan dan penanganan zat kimia yang benar dan aman.
Tutup dengan kain bagian yang terbakar dengan cepat. Siram dengan air yang ada, jauhan bahan yang menyebabkan sesegera mungkin dari sumber api, Hubungi emergency engginering, jangan panik.
Penyakit Akibat Kerja & Penyakit Akibat Hubungan Kerja di laboratorium ke sehatan
- Substitusi dari bahan kimia, alat kerja atau proses kerja
- Isolasi dari bahan-bahan kimia, alat kerja, proses kerja dan petugas kesehatan dan non kesehatan (penggunaan alat pelindung)
- Perbaikan sistim ventilasi, dan lain-lain
Pemeriksaan dan pengobatan pekerja dan jaminan kesehatan


JENIS
SKALA DAN PENANGANAN
·         Ergonomi
Memiliki kesalahan postur
·         Berdiri waktu yang lama
·         Duduk tanpa back suport dan
·         head suport
·         Mengangkat beban berat
·         Membungkukkan badan
·         Memutar badan
·         Mengangkat tangan lebih
·         tinggi dari bahu
·         Bekerja pada posisi jongkok
·         Memiliki suhu ruangan yang panas Memiliki ventilasi yang terbatas
5 Banyak bahaya: Memiliki Kesalahan Postur lebih dari 5
Memiliki suhu ruang panas
Memiliki Ventilasi terbatas

4 Banyak bahaya: memiliki kesalahan postur lebih dari 4
Memiliki suhu ruang panas
Memiliki ventilasi terbatas

3 Banyak bahaya: memiliki kesalahan postur lebih dari 3
Memiliki suhu ruang panas
Memiliki ventilasi terbatas

2 Banyak Bahaya: memilki kesalahan postur lebih dari 2
Memiliki suhu ruang panas atau memiliki ventilasi terbatas

1 Banyak bahaya: memiliki kesalahan postur kurang dari 2
Tidak ada masalah suhu ruang dan ventilasi
Bahaya Suhu Ekstrim
Terpapar suhu 100-diatas seribu
5 terpapar suhu diatas 700 Oc
4 terpapar suhu dengan interval 500oC – 699oC
3 terpapar suhu dengan interval 300oC – 499oC
2 terpapar suhu dengan interval 100oC – 299oC
1 terpapar suhu  dengan interval 70oC – 99oC
Bahaya elektrikal
Banyaknya titik sumber bahaya elektrikal

Contoh bahaya elektrikal
Sirkuit listrik yang tidak terpasang baik seperti saklar yang longgar Kabel yang tidak dilapisi insulator (kabel telanjang)
Rangkaian kabel yang tidak baik Cok sambung yang longgar Kondisi basah yang dekat dengan arus listrik
5 memiliki titik sumber bahaya elektrikal lebih dari 7
4 memiliki titik sumber bahaya elektrikal 5-7
3 memiliki titik sumber bahaya elektrikal 3-4
2 memiliki titik sumber bahaya elektrikal 2-3
1 memiliki titik sumber bahaya elektrikal 1

































Bahaya Kebisingan Tingkat kebisingan
5 memiliki ruangan dengan kebisingan lebih dari 100 db
4 memiliki ruangan dengan kebisingan 90-99 db
3 memiliki ruangan dengan kebisingan 70-89 db
2 memiliki ruangan dengan kebisingan 40-69 db
1 memiliki ruangan dengan kebisingan dibawah 40 db
Bahaya jatuh, benda jatuh/benda terlempar, penglihatan
Banyak penyebab terjatuh
Benda jatuh/terlempar
Posisi ketinggian/ kipas angin/mesin
Penglihatan
mesin penghasil scrap/sparks
5 memiliki potensi penyebab terjatuh, penyebab benda terlempar dan jatuh dan potensi bahaya penglihatan
4 memiliki potensi penyebab terjatuh dan penyebab benda terlempar
3 memiliki potensi penyebab terjatuh dan potensi bahaya penglihatan
2 memiliki salah satu potensi ( jatuh atau benda terlempar atau bahaya penglihatan)
1 tidak terdeteksi potensi jatuh, benda terlempar atau bahaya penglihatan












TUGAS !

1.      Apa yang dimaksud dengan keselamatan dan kesehatan kerja ?
Jawab : Adalah pemberian perlindungan kepada setiap orang yang berada ditempat kerja, yang berhubungan dengan pemindahan bahan baku, penggunaan peralatan kerja konstruksi, proses produksi dan lingkungan sekitar tempat kerja, Agar pekerja mencapai keadaan sejahtra dari badan, jiwa, sosial, fisik, dan psikis.

2.      Dalam perkembangan pelaksanaan K3 terakhir faktor penting apa saat ini sebagai faktor penyebab utama kecelakaan. Sebutkan dan jelaskan!
Jawab : Terdapat tiga faktor utama penyebab kecelakaan kerja yaitu, Faktor manusia yang mencangkup umur baik belum dan sudah tidak layak kerja di sektor tersebut, jenis kelamin dalam penempatan sektor kerja yang tidak semestinya, masa kerja, tidak adanya jeda waktu untuk pekerja agar bekerja lebih konsisten, penggunaan alat pelindung diri yang tidak lengkap dan disepelekan, tingkat pendidikan sehingga tidak meguasai prosedur kerja dengan tepat, perilaku atau kebiasaan yang tidak tepat saat bekerja, tidak adanya pelatihan keselamatan kerja bagi para pekerja, tidak di tegakan dan disiplinkan mengeani peraturan k3 dan tata tertib bekerja sehingga terjadi human eror.

3.      Bagaimana Keterkaitan antara K3 dengan produktivitas perusahaan?
Jawab : Sebuah perusahaan yang baik dan sehat adalah perusahaan yang selalu memperhatikan kondisi karyawannya, dalam hal ini keselamatan kerja karyawannya. Penerapan program keselamatan kerja yang optimal bagi karyawan secara langsung erat hubungannya dengan produktivitas kerja karyawan, karena penerapan program keselamatan kerja merupakan salah satu cara memotivasi karyawan untuk meningkatkan produktivitas kerja mereka. Motivasi akan timbul dari diri karyawan untuk bekerja sebaik mungkin apabila mereka merasa aman dan nyaman dalam melaksanakan pekerjaannya tanpa ada resiko yang dapat mengancam keselamatan jiwanya, selain itu karyawan juga akan senang karena mereka merasa diperhatikan oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Akan tetapi sebaliknya, apabila program keselamatan kerja tidak dijalankan secara intensif dan optimal, maka dapat menurunkan produktivitas kerja karyawan, yaitu penurunan semangat dan gairah kerja karyawan akibat mereka merasa takut mengambil resiko untuk membahayakan jiwanya dan tentunya karena mereka merasa tidak diperhatikan oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

4.      Apa perbedaan antara insiden dan accident? Jelaskan?
Accident dibedakan dengan ‘incident’. Perbedaan antara keduanya adalah ada atau tidaknya loss (kerugian). Accident selalu disertai dengan timbulnya kerugian, sedangkan incident tidak disertai dengan kerugian. Incident adalah mirip dengan accident, namun bedanya adalah incident tidak disertai dengan kerugian. Yang termasuk kedalam kategori incident adalah: nearmiss, dan kejadian-kejadian berbahaya.
KESIMPULAN :                                                                                                            
a. Yang biasa disebut di TV, surat kabar atau lainnya insiden, itu sebenarnya bukan insiden, tapi accident atau kecelakaan, karena sudah menyebabkan kerugian baik nyawa, cedera, maupun harta benda.                                                
b.Insiden tidak sampai terjadi kerugian, tapi hampir terjadi kerugian.       
c.Salah satu contoh dari Insiden adalah Near Miss, yang orang banyak bilang 'nyaris'. Near Miss merupakan Insiden yang diakibatkan oleh kecerobohan manusia.

5.      Apa perbedaan prinsip sumber bahaya (hazard) keselamatan dan kesehatan?
Jawab :
Prinsip keselamatan dalam kerja adalah pegendalian kecelakaan dalam pekerjaan, Kemampuan untuk mengidentifikasikan dan menghilangkan (mengontrol) resiko yang tidak bisa diterima (the ability to identify and eliminate unacceptable risks). Sedangkan prinsip kesehatan adalah Derajat/tingkat keadaan fisik dan psikologi individu (the degree of physiological and psychological well being of the individual).

6.      Apa yang dimaksud dengan Domino Theory Model?
Jawab : Dalam Teori Domino Heinrich, kecelakaan terdiri atas lima faktor yang saling berhubungan        :   1.Kondisi kerja
                                    2.Kelalaian manusia                                                                                                   3.Tindakan tidak aman                                                                                                       4.Kecelakaan                                                                                                                           5.Cedera
        Kelima faktor ini tersusun layaknya kartu domino yang diberdirikan. Jika satu kartu jatuh, maka kartu ini akan menimpa kartu lain hingga kelimanya akan roboh secara bersama.Ilustrasi ini mirip dengan efek domino yang telah kita kenal sebelumnya, jika satu bangunan roboh, kejadian ini akan memicu peristiwa beruntun yang menyebabkan robohnya bangunan lain. Menurut Heinrich, kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan tindakan tidak aman sebagai poin ketiga dari lima faktor penyebab kecelakaan. Menurut penelitian yang dilakukannya, tindakan tidak aman ini menyumbang 98% penyebab kecelakaan.
Lalu,bagaimana penjelasan dengan menghilangkan tindakan tidak aman ini dapat mencegah kecelakaan? Kembali ke analogi kartu domino tadi, jika kartu nomer 3 tidak ada lagi, seandainya kartu nomer 1 dan 2 jatuh, ini tidak akan menyebabkan jatuhnya semua kartu.Dengan adanya gap/jarak antara kartu kedua dengan kartu keempat, pun jika kartu kedua terjatuh, ini tidak akan sampai menimpa kartu nomer 4. Akhirnya, kecelakaan (poin 4) dan cedera (poin 5) dapat dicegah.
Dengan penjelasannya ini, Teori Domino Heinrich menjadi teori ilmiah pertama yang menjelaskan terjadinya kecelakaan kerja. Kecelakaan tidak lagi dianggap sebagai sekedar nasib sial atau karena peristiwa kebetulan

7.      Jelaskan tahapan pencegahan kecelakaan?
Jawab :                                                                                                 
Ø  Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja melalui Pengendalian Bahaya Di Tempat Kerja :
a.      Pemantauan dan Pengendalian Kondisi Tidak Aman di tempat kerja.
b.      Pemantauan dan Pengendalian Tindakan Tidak Aman di tempat kerja.
Ø  Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja melalui Pembinaan dan Pengawasan :
a.      Pelatihan dan Pendidikan K3 terhadap tenaga kerja.
b.      Konseling dan Konsultasi mengenai penerapan K3 bersama tenaga kerja.
c.       Pengembangan Sumber Daya ataupun Teknologi yang berkaitan dengan peningkatan penerapan K3 di tempat kerja.
Ø  Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja melalui Sistem Manajemen :
a.      Prosedur dan Aturan K3 di tempat kerja.
b.      Penyediaan Sarana dan Prasarana K3 dan pendukungnya di tempat kerja.
c.       Penghargaan dan Sanksi terhadap penerapan K3 di tempat kerja kepada tenaga kerja.

8.      Sebutkan dan jelaskan metode identifikasi sumber bahaya (berikan salah satu contoh metode) !
Jawab :
        Dalam melakukan tahapan-tahapan identifikasi bahaya ada beberapa metode yang dapat digunakan (Wachyudi, 2010) :
  • Metode Perbandingan, yaitu metode yang membandingkan rancangan terhadap suatu standar atau desain, dan berbentuk seperti daftar periksa (checklist). Daftar periksa menyediakan acuan untuk menentukan potensi bahaya dalam suatu sistem. Daftar ini dikembangkan dari pengalaman atau standard atau hasil analisis tertentu dengan mengumpulkan pengalaman masa lalu dalam suatu daftar tentang apa yang boleh dan apa yang tidak. Daftar periksa berguna saat proses perancangan untuk membantu ingatan dalam mengungkapkan bahaya yang terlupakan.
  • Metode fundamental, yaitu metode yang tersusun untuk memotivasi orang yang menerapkan pengetahuan dan pengalaman mereka dengan tujuan mengidentifikasi bahaya. Yang termasuk dalam metode kelompok ini adalah :
a)      Preliminary Hazard Analysis (PHA) atau Analisis Bahaya Awal, merupakan suatu sistem atau metode yang biasanya digunakan untuk menjelaskan dengan teknik kualitatif untuk identifikasi bahaya pada tahap awal dalam proses desain (Mannan, 2005). PHA ditujukan hanya pada tahap awal pengembangan pabrik/ industri/ instalasi. Informasi yang dibutuhkan untuk dilakukan penelitian adalah kriteria desain, spesifikasi bahan dan peralatan, dll. Prinsip dari PHA adalah untuk mengidentifikasi bahaya yang mungkin akan berkembang menjadi kecelakaan. Ini dilakukan dengan menimbulkan situasi atau proses yang tidak direncanakan atau dimaksud terjadi. Ini penting untuk melakukan identifikasi bahaya dari awal pada proses desain bertujuan untuk mengimplementasikan corrective measure pada desain, yang dikenal dengan manajemen resiko atau reduksi pro aktif. Beberapa deviasi yang dapat terjadi ditandai dengan isyarat : more of ...; less of ...; nothing of ...; part of ...; both ... and ...; another than ...; opposite direction ...; later than ....
b)      Hazard Operability Study (HAZOPS), merupakan metode yang banyak digunakan oleh industri proses untuk mengidentifikasi bahaya pada tahap desain rekayasa (Mannan, 2005). Tujuannya untuk menganalisis sistem bagian per bagian dan menjelaskan bagaimana kondisi ideal suatu sistem bekerja. Langkah awal dilakukan dengan mendapatkan tinjauan dari sistem berupa gambar teknis atau informasi lain dari sistem tersebut. Sistem harus dibagi menjadi bagian-bagian yang dijelaskan pula kondisi ideal dari bagian-bagian tersebut. Pada sebuah sistem, semua bagian atau subsistem merupakan dependen satu sama lain, dan ketergantungan ini harus diidentifikasi. Langkah berikutnya adalah melakukan identifikasi deviasi untuk tiap bagian dari sistem. Untuk membantu mengidentifikasi deviasi, digunakan guideword. Ketika deviasi teridentifikasi, maka penyebabnya pun dapat teridentifikasi.
c)      Risk Based Inspection (RBI), adalah penilaian risiko dan manajemen proses yang terfokus pada kegagalan peralatan karena kerusakan material. Fokus RBI adalah penilaian risiko yang berkaitan dengan pengoperasian peralatan. RBI dapat memberikan masukan kepada manajemen untuk merencanakan jadwal inspeksi dan pemeliharaan pada perlatan termasuk penganggaran biayanya. Pendekatan RBI secara kualitatif menyediakan dasar analisis untuk memprioritaskan program inspeksi berdasarkan risiko.
d)      What-If merupakan metode identifikasi bahaya awal untuk meninjau desain dengan menanyakan serangkaian pertanyaan awal yaitu bagaimana-jika (what-if). Analisis what-if merupakan bagian dari cara checklist, yang kemungkinan merupakan metode identifikasi bahaya tertua.
e)      Failure Modes and Effect Analysis (FMEA) atau Analisis Pola Kegagalan dan Akibat, yaitu metode untuk mengidentifikasi bahaya yang melibatkan analisis modus kegagalan dari suatu entitas, penyebabnya, dampaknya, dan hubungan kritikalitas dari kegagalan (Mannan, 2005). Tujuan dari FMEA adalah untuk mengidentifikasi kegagalan yang mempunyai dampak yang tidak diinginkan pada sistem operasi.
f)       Fault Tree Analysis (FTA) dan Event Tree Analysis (ETA) merupakan diagram logika yang digunakan untuk mewakili masing-masing dampak dari suatu peristiwa dan penyebab dari suatu peristiwa (Mannan, 2005). Diagram ini juga menyatakan ilustrasi bebas dari rangkaian potensi kegagalan peralatan atau kesalahan manusia yang dapat menimbulkan kerugian. FTA bersifat deduktif dengan memunculkan akibat untuk mencari sebab, sedangkan ETA bersifat induktif dengan menampilkan sebab (kejadian awal) untuk mencari akibat (kejadian akhir).
g)      Qualitative Risk Assessment merupakan pendekatan nilai risiko terhadap suatu sistem dengan pemberian skor secara kualitatif (iya/ tidak; baik/ buruk; tinggi/ rendah) terhadap faktor kemungkinan dan akibat kegagalan dari suatu kejadian (Wachyudi, 2010).
h)      Semi-quantitave Risk Assessment merupakan pengembangan penilain risiko dengan menggunakan suatu pemodelan untuk kejadian tertentu untuk mendapatkan rate event. Pemodelan tersebut bertujuan untuk mendapatkan akurasi data berdasarkan informasi awal yang diolah dengan mempertimbangkan parameter-parameter yang ada (Wachyudi, 2010).
i)        Quantitative Risk Assessment merupakan penilaian penuh dengan melakukan pemodelan semua kejadian sehingga kemungkinan dan akibat dari suatu kegagalan dapat diketahui secara numerik sehingga mendapatkan tingkat risiko yang cukup akurat (Wachyudi, 2010).

9.      Jelaskan perbedaan tugas antara inspektur dan auditor !
Jawab :
§Auditor ­à orang yang menguji dengan kritis secara sistematis terhadap penerapan Manajemen K3 diseluruh kegiatan perusahaan, dengan tujuan untuk meminimisasi kerugian Upaya mengatur efektivitas dari pelaksanaan suatu Sistem, memfokuskan terhadap proses suatu Sistem, menekanan terhadap Proses, dengan Metode Pelaksanaan : tinjauan ulang, verifikasi dan observasi, Jangka Panjang
§Inspektur à orang yang memeriksa secara rutin dan berkala terhadap suatu Obyek Kegiatan atau Departemen biasanya dilakukan oleh petugas setempat dengan upaya menemukan kesesuaian dari suatu Obyek, memfokuskan terhadap suatu Obyek, menekanan terhadap hasil akhir, Metode Pelaksanaan : dengan pengujian secara teknis dan mendetil, Jangka Pendek.

10.  Sistem Manajemen K3 merupakan pelaksanaan K3 berdasarkan kesisteman. Jelaskan!
Jawab : Sistem Manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) menurut Permenaker No 5 Tahun 1996 berdasarkan Kesisteman ialah bagian dari sistem secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung-jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengajian dan pemeliharaan kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
Sedangkan Sistem Manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) menurut standar OHSAS 18001:2007 ialah bagian dari sebuah sistem manajemen organisasi (perusahaan) yang digunakan untuk mengembangkan dan menerapkan Kebijakan K3 dan mengelola resiko K3 organisasi (perusahaan) tersebut.
Elemen-Elemen Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja bisa beragam tergantung dari sumber (standar) dan aturan yang kita gunakan. Secara umum, Standar Sistem Manajemen Keselamatan Kerja yang sering (umum) dijadikan rujukan ialah Standar OHSAS 18001:2007, ILO-OSH:2001 dan Permenaker No 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Mengidentifikasi bahaya atau resiko yang ada di lingkungan kampus

Bahaya dan Resiko yang mungkin terjadi di lingkungan kampus Poltekkes Kemenkes Jakarta 3 adalah : Identifikasi masalah /...